Qodrat 2: Waktu Perilisan yang Cerdas Sampai Ustaz yang Jadi Superhero

Qodrat 2: Pilihan Waktu Rilis yang Cerdas Sampai Ustaz yang Jadi Superhero

Qodrat 2. Sekuel dari film pertamanya Qodrat 2022, film yang aku kagum-kagumi karena mengangkat genre--yang sepertinya, berani dan langka: horor-action.  Rilis tahun 2025 ini dan masih dengan sutradara yang sama, yakni Charles Gozali. Panjang durasi film kurang lebih 115 menit. 

Ini film horor indonesia terbaik menurutku. Adegan-adegan action-nya makin tebal tapi tetap horor. Film Qodrat 2 juga disisipi nuansa drama-romantis yang bikin pacing film lebih bertenaga. Aku kira produser film ini juga cerdas memilih waktu tayang: rilis ketika lebaran. 

  • Keselarasan Waktu Perilisan dengan Esensi Filmnya.

Kenapa pas lebaran? Kenapa enggak di hari lain? Lebaran–khususnya di Indonesia, jadi momen untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Selain itu ujian atau godaan after lebaran kembali terasa berat di banding selama bulan Ramadhan. 

Menurutku pemilihan waktu rilis ketika mulai lebaran ini cukup selaras dengan kesan yang dibawa oleh Qodrat 2 kepada penonton.

Ustaz Qodrat–yang diperankan Vino G Bastian, diceritakan bertemu kembali dengan istrinya, Azizah–diperankan oleh Acha Septriasa, setelah lama terpisah. Kemudian diceritakanlah alasan mengapa mereka akhirnya terpisah. Setelah itu Qodrat dan istrinya saling memaafkan kesalahan mereka masing-masing atas tragedi yang pernah terjadi. 

Tak lupa, ujian dan godaan dari para iblis meningkat dan terus menerus menerpa Ustaz Qodrat. Tujuan Iblis-iblis itu hanya ingin iman ustaz Qodrat runtuh. 

  • Sinopsis 

Sebagai gambaran, Qodrat 2 menceritakan kelanjutan dari film pertamanya yang telah berhasil mengalahkan Iblis Assuala, Qodrat (Vino G. Bastian) terus berusaha menemukan istrinya, Azizah (Acha Septriasa). Ternyata, Azizah mengalami depresi setelah terpaksa menjual dirinya kepada Assuala demi menyelamatkan Alif (Jason Bangun). Sempat dirawat di rumah sakit jiwa, Azizah telah keluar dan kini bekerja di sebuah pabrik pemintalan.  

Namun, pabrik tersebut dilanda masalah serius akibat serangkaian kematian misterius para pekerja. Penyebabnya adalah ritual pesugihan yang dilakukan pemilik pabrik untuk berhubungan dengan kekuatan iblis. Mengetahui hal ini, Qodrat bertekad menyelamatkan Azizah dengan segala cara. Situasi semakin kacau ketika teror tersebut memuncak dalam peristiwa kesurupan massal, di mana iblis bersiap menyerang—menunggu Qodrat jatuh ke dalam perangkap mereka.

  • Menonjolkan Kesan Superhero Secara Smooth

Tak kalah penting, Pak Charles Gozali juga seperti ingin kita menilai bahwa Ustaz Qodrat adalah seorang superhero atau pahlawan. Bukan hanya ditujukan lewat bagian Qodrat meruqyah dan mengalahkan para jin, dan bukan hanya pada adegan action-nya yang banyak. 

Tapi, kesan superhero itupun berusaha ditanam dipikirkan penonton lewat komposisi visual, pengambilan angel, beberapa scene tertentu dan scoring. Semua berhasil dieksekusi oleh Pak Charles dan para crew secara baik, halus dan rapih. Biar lebih ringkas aku tulis seingatku, begini:

  1. Komposisi visual atau pengambilan angel: Beberapakali aku lihat cara pengambilan gambar di film ini tidak seperti film horor pada umumnya. Misal, adegan ketika Qodrat tarik petugas dari reruntuhan rumah yang akan meledak. Qodrat di kiri dalam frame, berjalan maju pelan ke depan dan di slowmo, lalu di sebelah kanannya ledakan. penggambaran yang justru umum dipakai di film superhero. Selanjutnya, di salah satu scene ketika setannya keluar bukannya jump scare, justru si setan jongkok dan bersandar di tiang. Kamera mendekati tiang pelan-pelan, si setan membelakangi kamera, setelah kamera dominan menyoroti setan, setannya nengok ke belakang, alias ke kamera. Seakan-akan menunjukkan kalau dia villain-nya. Kalau enggak salah pun memang enggak ada jump scare di film ini.
  2. Scene-scene yang superhero banget: scene paling ikonik dan banyak disorot oleh para konten kreator review film yaitu ketika ustaz Qodrat meruqyah 100 buruh yang kesurupan dan nyerang dirinya. Kalau satu orang lawan banyak orang mungkin udah biasa tapi satu lawan 100 orang yang kesurupan itu beda cerita. Asli, vibes-nya kaya nonton power ranger banget. Selain itu ada scene lawan dukun, aku sebut scene ini scene lawan raja pertama–maaf kalau spoiler. Scene ini kasih intensitas bahwa Ustaz Qodrat memang punya list villain yang harus dilawan. Mungkin scene semacam ini juga dipakai di film horor lain hanya saja yang membedakannya adalah Ustaz Qodrat melawan dukun bukan pakai doa-doa tapi adu skill silat. 
  3. Scoring: kalau scoring sebetulnya sudah mulai ditunjukkan atau diputar dari trailernya. Scoring khas avengers dan justice league dicampur-padukan dengan nuansa horor. Hingga di filmnya, scoring itu dipakai lagi. Pertama, di scene ketika melawan 100 orang kesurupan dan Qodrat menang. Dengan scoring ala-ala superhero, kita yang nonton dibuat tersenyum bangga, alih-alih terasa mencekam. Kedua, scoring yang menurutku superhero banget yaitu di scene ending setelah melawan raja terakhir. Scene ending ini kira-kira kasih clue dan misteri untuk film ketiga nanti tapi scoringnya justru bukan scoring horor kaya biola kusut tapi nuansabya lebih tegang sekaligus semangat. Scoring menunjukkan petualangan ustaz Qodrat yang belum selesai.
  • Bukan Tanpa Kekurangan 
Qodrat 2 bukan tanpa kekurangan. Ada beberapa hal yang masih terasa kurang halus, terutama pada beberapa transisi adegan yang terpotong secara tiba-tiba, membuat perpindahan scene masih terasa agak kasar. 

Namun, di luar itu, film ini berhasil membangun karakter-karakternya dengan sangat baik. Vino G. Bastian dan Acha Septriasa, bersama aktor pendukung lainnya, sukses menghidupkan peran mereka masing-masing, memberikan kedalaman emosi yang memperkuat alur cerita.  

Pada akhirnya, kita bisa lihat Qodrat 2 adalah bukti bahwa genre horor-action Indonesia bisa dieksekusi dengan cerdas dan penuh gaya. 

Kombinasi antara ketegangan horor, aksi yang intens, serta sentuhan drama dan romansa, membuat film ini tidak hanya menghibur tapi juga meninggalkan kesan mendalam. Pemilihan waktu rilis di momen Lebaran pun terasa sangat tepat, mengingat esensi ceritanya yang sarat dengan nilai maaf, ujian iman, dan pertarungan melawan godaan.  

Aku belum bilang kalau film ini juga ada dialog bahasa arabnya, meski enggak banyak tapi bagus banget. Selain itu  ada selingan komedinya juga yang masuk banget, tidak terasa memaksalan, begitu. 

Dan yang paling penting, film ini meninggalkan misteri yang membuat kita penasaran: apa lagi yang akan dihadapi Ustaz Qodrat di sekuel berikutnya? Siap-siap, karena petualangannya belum berakhir.

Komentar

Postingan Populer