Generasi Z: Antara Stereotip dan Tanggung Jawab Bersama

Generasi Z: Antara Stereotip dan Tanggung Jawab Bersama


-Hilmy Almuyassar-


(Postingan lama)
Belakangan, banyak kreator konten, figur publik, dan komedian dari Generasi Milenial yang gencar menyoroti tingkah laku Generasi Z dengan nada satire hingga sarkastik. Entah melalui video pendek, podcast, atau unggahan media sosial, Gen Z seolah menjadi sasaran empuk—selain isu politik—untuk dijadikan bahan konten. Pertanyaannya: Benarkah Gen Z semeresahkan itu? Ataukah ini sekadar pembesaran kekurangan yang akhirnya mengubur segi positif mereka?  

Awalnya, aku mengira ini hanya hiperbola. Bukankah setiap generasi punya kelebihan dan kekurangan? Milenial pun bukan generasi sempurna, hanya saja kritik terhadap mereka tak semasif sekarang karena media sosial dulu belum berkembang. Namun, setelah menyaksikan langsung beberapa kejadian, aku mulai memahami keresahan para Milenial—meski aku sendiri adalah Gen Z.  

Tapi, di sini aku tak ingin ikut-ikutan membully generasiku sendiri. Sebaliknya, aku ingin mengajak kita melihat faktor lain yang mungkin berkontribusi: apakah perilaku "menjengkelkan" Gen Z juga dibentuk oleh konten-konten yang justru dibuat oleh Milenial?

  • Gen Z dalam Angka dan Karakter
Berdasarkan definisi kumparan, Gen Z adalah mereka yang lahir antara 1997–2012. Karakteristiknya sering dirangkum dalam empat poin:  
  1. Melek teknologi  
  2. Realistis  
  3. Mandiri  
  4. Peduli sosial dan politik  
Mereka juga punya segudang kelebihan, seperti kreativitas tanpa batas, adaptasi cepat, dan jiwa kewirausahaan (Kompasiana). Namun, di sisi lain, Gen Z kerap dikritik karena:  
  1. FOMO (Fear of Missing Out)  
  2. Tingkat kecemasan tinggi  
  3. Suka mengeluh dan self-proclaimed (sumber: Ruang Guru)  

  • Ketika Gen Z Menelan Mentah-Mentah Konten Milenial 
Lihatlah bagaimana Gen Z memproses informasi dari konten-konten yang—ironisnya—kebanyakan dibuat oleh Milenial. Contoh nyata:  
  1. Istilah psikologi yang disalahartikan: Gen Z kerap menggunakan mental health, self-love, atau healing sebagai dalih untuk bermalas-malasan. Tapi, siapa yang pertama mempopulerkan istilah ini? Bukan Gen Z, melainkan selebritas dan influencer Milenial lewat podcast atau konten mereka.  
  2. Cari kerja sesuai passion: Kalimat ini sering dianggap Milenial sebagai alasan Gen Z menghindari pekerjaan berat. Tapi, bukankah jargon ini justru kerap diucapkan komedian dan motivator Milenial di acara stand-up comedy atau seminar?  
  3. Feminisme yang dipahami separuh-separuh: Banyak Gen Z perempuan meneriakkan feminisme tanpa memahami konsep dasarnya. Tapi, apakah mereka mempelajarinya sendiri? Atau justru terinspirasi dari obrolan selebritas Milenial di podcast viral?  

  • Lalu, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Menyalahkan Milenial sepenuhnya juga tidak adil. Masalahnya terletak pada cara Gen Z mencerna konten tersebut. Di era informasi serba cepat, Gen Z perlu mengasah critical thinking—seperti yang diusung Kurikulum Merdeka—agar tidak menelan mentah-mentah setiap konten.  

Tapi, di sisi lain, para kreator Milenial juga bisa berperan lebih bijak:  
  1. Sertakan sumber referensi dalam konten.  
  2. Dorong Gen Z untuk riset mandiri, misalnya dengan menyebutkan buku, jurnal, atau ahli yang relevan.  
  3. Hindari generalisasi. Tidak semua Gen Z sama. Kritiklah perilaku spesifik, bukan seluruh generasi.  

  • Kritik Boleh, Asal Membangun
Aku sendiri, sebagai Gen Z akhir (lahir di 1998–2002), sering merasa "terasing" dari stereotip Gen Z yang digaungkan. Justru, banyak dari kami yang ikut jengkel dengan perilaku Gen Z kelahiran 2002 ke atas.  

Jadi, jika para Milenial masih ingin mengkritik Gen Z, tolong spesifikkan segmentasinya. Misalnya:  
"Perbedaan Gen Z 2002 ke atas vs. Milenial ketika diomelin bos."

Lagipula, bukankah lebih baik bekerja sama untuk membangun generasi yang lebih kritis daripada saling menyudutkan?  

Komentar

Postingan Populer